Kami Rindu Simoncelli

Tepat lima tahun lalu, dunia balap motor internasional berduka. Seorang pembalap muda berbakat, Marco Simocelli, meninggal dalam kecelakaan tragis di lintasan balap, tepatnya di Sirkuit Sepang, Malaysia, tanggal 23 Oktober 2011.

marco-simoncelli

Publik akan mudah mengenali seorang Simoncelli. Rambut kribo yang berwarna pirang, penampilan energik dan terkadang melakukan manuuver berbahaya, dan pastinya nomor motor 58 adalah identitas Marco Simoncelli. Pembalap kelahiran Cattolica, Italia, 20 Januari 1987 itu memang sangat melekat di benak banyak orang, terutama para rider MotoGP. Sosoknya yang unik dan ramah membuat Simoncelli akrab dengan rider lain, meski kadang ia dikritik karena gaya balapnya yang “sembrono”.

Sepanjang karirnya di dunia balap, tercatat “SuperSic”, begitu Simoncelli menjuluki dirinya, pernah meraih titel juara dunia kelas 250cc bersama tim Gilera yang dibelanya pada periode 2008-2009. Sementara di kelas para raja, MotoGP, rekor Simoncelli adalah 34 kali start, 2 kali podium, 2 kali pole position, dan total meraih 264 poin. Di kelas MotoGP, penampilan Simoncelli menanjak saat bergabung dengan tim satelit Honda Gresini Team.

Banyak yang menilai bahwa Simoncelli adalah “jelmaan” Valentino Rossi semasa masih muda. Hal ini memang lumrah, Simoncelli dan Rossi sendiri sama-sama berasal dari Italia. Gaya membalap keduanya pun amat mirip: agresif dan atraktif. Di luar lintasan pun, Simoncelli dan Rossi adalah sosok yang sangat akrab. Keduanya kerap terlibat canda gurau dan sesekali tak sungkan beradu kecepatan saat berada di lintasan balap.

simoncelli-and-rossi

Karena keakrabannya dengan Simoncelli, tak heran jika Rossi pun menjadi sosok yang paling kehilangan saat kecelakaan merenggut nyawa sahabatnya tersebut. Rossi sendiri terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan Simoncelli di Sepang.

Saat itu, “Si Keriting” terjatuh dan terlibat insiden dengan Colin Edwards dan Valentino Rossi yang berada di belakangnya. Rossi, seusai balapan di Philip Island akhir pekan lalu mengucapkan bela sungkawa dan rasa rindunya kepada Simoncelli.

“Sic bagi saya seperti adik sendiri. Dia begitu kuat di trek dan penuh kasih dalam kehidupan sehari-hari. Aku sangat merindukannya,” kata Rossi, dilansir dari Crash.

23 Oktober 2016 kemarin, lima tahun sudah Marco Simoncelli meninggalkan lintasan MotoGP. Dan untuk menghormati Simoncelli, penyelenggara MotoGP tak akan memberikan nomor 58 kepada pembalap mana pun di kelas utama, setelah sebelumnya nama “Marco Simoncelli”disematkan pada Sirkuit Misano. Hal tersebut secara resmi disepakati di GP Misano tahun ini, sebuah kehormatan khusus untuk Simoncelli.

Tak hanya Rossi, segenap orang yang terlibat di MotoGP baik pembalap maupun kru pun juga menyatakan rasa kehilangan paska kepergian Simoncelli. Mereka tak akan lagi melihat sosok tinggi besar berambut kriting yang penuh canda dan tawa. Penggemar MotoGP pun juga tak akan bisa melihat lagi manuver agresif yang sampai-sampai membuat seorang Jorge Lorenzo naik darah. Namun dibalik gaya balapnya yang agresif serta sosoknya yang eksentrik, sosok Marco Simoncelli memang begitu dirindukan. Kami merindukanmu, SuperSic. Ciao, Marco!

2 thoughts on “Kami Rindu Simoncelli

  1. I see interesting posts here. Your blog can go viral easily,
    you need some initial traffic only. There is a sneaky method to get massive traffic from
    social sites. Search in google for; Twinor’s strategy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *